
Persalinan mungkin terasa masih jauh ketika usia kehamilan baru memasuki trimester pertama. Perut belum banyak berubah, gerakan bayi belum terasa, dan hari perkiraan lahir masih berbulan-bulan di depan.
Karena itu, banyak ibu berpikir bahwa persiapan persalinan baru perlu dilakukan ketika usia kehamilan sudah mendekati cukup bulan.
Padahal, persiapan yang baik tidak harus dimulai dengan membeli perlengkapan bayi atau menyiapkan tas rumah sakit. Persiapan persalinan sesungguhnya sudah dapat dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak pertama kali kehamilan diketahui.
Bukan karena persalinan harus dipikirkan dengan cemas sejak awal, melainkan karena semakin dini persiapannya dimulai, semakin banyak waktu yang tersedia untuk memahami kehamilan, mengenali pilihan persalinan, berdiskusi dengan tenaga kesehatan, dan mempersiapkan diri secara fisik maupun emosional.
Kapan sebaiknya mulai mempersiapkan persalinan?
Tidak ada satu minggu kehamilan yang menjadi batas mutlak bagi semua ibu untuk mulai mempersiapkan persalinan.
Namun, secara praktis, persiapan dapat dilakukan secara bertahap sejak awal kehamilan dan dibuat semakin terarah ketika memasuki trimester ketiga.
WHO menempatkan edukasi mengenai kesiapan menghadapi persalinan dan kemungkinan komplikasi sebagai bagian dari perawatan selama kehamilan. Persiapan tersebut mencakup mengetahui tempat bersalin, tenaga kesehatan yang akan membantu, transportasi, pendamping persalinan, kebutuhan biaya, serta apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat.
Dengan kata lain, persiapan persalinan bukan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu hari.
Ia lebih menyerupai perjalanan kecil yang dilakukan sedikit demi sedikit.
Trimester pertama: mengenali kehamilan dan mulai membangun kebiasaan baik
Pada trimester pertama, perhatian utama biasanya tertuju pada kesehatan ibu dan perkembangan awal janin.
Inilah saat yang baik untuk mulai membangun hubungan dengan dokter atau bidan, menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran, dan memahami kondisi kesehatan ibu secara menyeluruh.
WHO menganjurkan agar ibu mendapatkan kontak dengan tenaga kesehatan sedini mungkin setelah kehamilan terkonfirmasi serta mengikuti pemeriksaan kehamilan yang direkomendasikan. Perawatan antenatal memberikan kesempatan untuk memantau kesehatan ibu dan janin, mendeteksi masalah lebih awal, sekaligus mendapatkan informasi mengenai kehamilan dan persalinan.
Pada tahap ini, persiapan persalinan belum perlu dipenuhi dengan berbagai keputusan besar.
Yang lebih penting adalah memahami perjalanan kehamilan dan mulai memperhatikan kebutuhan tubuh sendiri.
Ibu dapat mulai mencari informasi tentang pola makan yang baik, aktivitas fisik yang sesuai, pemeriksaan kehamilan, serta tanda-tanda yang membutuhkan pertolongan medis.
Trimester kedua: mulai mengenali pilihan persalinan
Memasuki trimester kedua, kehamilan biasanya mulai terasa lebih nyata.
Gerakan bayi mungkin mulai dirasakan. Tubuh semakin berubah. Pada saat yang sama, ibu memiliki kesempatan lebih panjang untuk mempelajari seperti apa proses persalinan yang mungkin dihadapi.
Ini waktu yang baik untuk mulai berdiskusi dengan dokter atau bidan mengenai beberapa hal penting, seperti pilihan tempat bersalin, kondisi kesehatan ibu dan bayi, kemungkinan persalinan normal maupun operasi sesar apabila ada indikasi medis, serta berbagai metode untuk membantu mengatasi rasa nyeri saat persalinan.
Membicarakan hal tersebut lebih awal bukan berarti ibu harus menentukan semuanya sekarang.
Justru sebaliknya, pengetahuan yang diperoleh lebih awal membuat keputusan dapat dibuat dengan lebih tenang.
Jika terdapat kelas persiapan persalinan atau antenatal class, ibu dan pasangan juga dapat mulai mencari informasi mengenai jadwalnya. Kelas semacam ini umumnya membahas proses persalinan, teknik relaksasi, pilihan metode persalinan, perawatan bayi setelah lahir, serta kesiapan emosional menjadi orang tua.
Trimester ketiga: saatnya membuat persiapan lebih konkret
Ketika memasuki trimester ketiga, persiapan persalinan sebaiknya mulai menjadi lebih nyata.
Bukan hanya memahami apa yang akan terjadi, tetapi juga memastikan berbagai kebutuhan praktis sudah dipikirkan.
Pada tahap ini, ibu dan pasangan dapat mulai menentukan atau mengonfirmasi tempat persalinan, memahami rute menuju fasilitas kesehatan, menyiapkan orang yang akan mendampingi, serta mengetahui siapa yang dapat dihubungi jika persalinan dimulai atau muncul keadaan darurat.
WHO secara khusus menganjurkan adanya rencana kesiapan persalinan dan kesiapan menghadapi komplikasi. Rencana tersebut dapat mencakup tempat persalinan, tenaga kesehatan, transportasi, biaya, perlengkapan yang diperlukan, serta orang yang akan memberikan dukungan kepada ibu.
Hal-hal yang tampak sederhana ini justru bisa sangat berarti ketika waktu persalinan tiba.
Ketika kontraksi mulai datang, misalnya, keluarga tidak perlu lagi sibuk mencari kendaraan, mencari nomor telepon fasilitas kesehatan, atau baru memikirkan siapa yang akan menemani ibu.
Semua sudah diketahui sebelumnya.
Kapan mulai menyiapkan tas persalinan?
Tidak ada alasan untuk menunggu hingga kontraksi datang baru mulai mengumpulkan kebutuhan.
Tas persalinan sebaiknya disiapkan sebelum mendekati hari perkiraan lahir sehingga ibu dan keluarga memiliki cukup waktu untuk memeriksa kembali isinya.
Apa saja yang perlu dibawa dapat berbeda menurut kebijakan fasilitas kesehatan. Karena itu, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada rumah sakit, klinik, dokter, atau bidan mengenai perlengkapan yang memang dibutuhkan.
Secara umum, persiapan dapat mencakup dokumen penting, pakaian ibu, perlengkapan bayi, kebutuhan pribadi, serta barang lain yang dianjurkan oleh fasilitas tempat bersalin.
Yang terpenting bukan seberapa banyak barang yang dibawa, melainkan apakah kebutuhan utama sudah tersedia dan mudah ditemukan ketika dibutuhkan.
Jangan lupa menyiapkan rencana persalinan
Sebagian ibu merasa lebih tenang setelah menuliskan keinginannya mengenai proses persalinan.
Dokumen semacam ini sering disebut birth plan atau rencana persalinan.
Isinya dapat mencakup pilihan tempat bersalin, siapa yang ingin mendampingi, preferensi mengenai posisi saat persalinan, pilihan penanganan nyeri, keinginan melakukan kontak kulit ke kulit setelah bayi lahir, hingga rencana pemberian makanan kepada bayi. NHS menjelaskan bahwa rencana persalinan dapat membantu ibu menyampaikan keinginannya kepada bidan, perawat, dan dokter.
Namun, rencana persalinan bukanlah kontrak yang harus berjalan persis seperti yang tertulis.
Persalinan adalah proses yang dapat berubah sesuai kondisi ibu dan bayi. Jika muncul keadaan yang membutuhkan tindakan medis, rencana tersebut mungkin perlu disesuaikan demi keselamatan ibu dan bayi. NHS juga menekankan bahwa proses persalinan tidak selalu berjalan sesuai rencana dan keputusan dapat berubah ketika kondisi di lapangan mengharuskannya.
Karena itu, rencana persalinan sebaiknya dipandang sebagai alat komunikasi, bukan sebagai sesuatu yang kaku.
Persiapan bukan hanya soal barang
Ada satu bagian persiapan yang sering terlupakan, yaitu kesiapan mental.
Persalinan bukan hanya peristiwa fisik. Bagi banyak ibu, proses ini juga membawa berbagai perasaan sekaligus. Ada kegembiraan, rasa ingin tahu, ketakutan, bahkan kekhawatiran tentang rasa sakit dan keselamatan bayi.
Membicarakan perasaan tersebut dengan pasangan dan tenaga kesehatan dapat membantu ibu memahami apa yang sebenarnya dikhawatirkan.
Pengetahuan juga dapat membuat sesuatu yang semula terasa asing menjadi lebih mudah dipahami.
Memahami bagaimana kontraksi dimulai, kapan harus berangkat ke fasilitas kesehatan, apa saja pilihan penanganan nyeri, dan apa yang mungkin terjadi selama proses persalinan dapat membuat ibu menghadapi hari kelahiran dengan persiapan yang lebih baik.
Pasangan juga perlu ikut mempersiapkan diri
Persalinan bukan hanya momen yang dihadapi oleh ibu seorang diri.
Pasangan atau anggota keluarga yang akan mendampingi juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan.
Siapa yang mengantar ibu? Siapa yang dapat dihubungi jika pasangan sedang tidak berada di rumah? Ke mana harus pergi? Berapa lama perjalanan menuju fasilitas kesehatan? Siapa yang dapat membantu mengurus anak lain di rumah?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sebaiknya sudah memiliki jawaban sebelum hari persalinan tiba.
Kesiapan semacam ini merupakan bagian dari rencana kesiapan persalinan yang juga ditekankan oleh WHO.
Jangan menunggu hari perkiraan lahir untuk belajar mengenali tanda persalinan
Hari perkiraan lahir memberikan gambaran mengenai waktu kelahiran, tetapi persalinan tidak selalu terjadi tepat pada tanggal tersebut.
Karena itu, ibu perlu mengetahui tanda-tanda persalinan dan memahami kapan harus menghubungi tenaga kesehatan atau datang ke fasilitas kesehatan.
Hal ini sebaiknya sudah dibicarakan dalam pemeriksaan kehamilan sebelum memasuki masa persalinan.
Mengetahui tanda persalinan lebih awal membuat ibu tidak perlu menebak-nebak ketika tubuh mulai menunjukkan perubahan.
Jadi, kapan waktu yang paling tepat?
Jawabannya adalah sedini mungkin, tetapi secara bertahap.
Pada trimester pertama, fokuslah pada pemeriksaan kehamilan dan menjaga kesehatan ibu serta janin.
Pada trimester kedua, mulai pelajari proses persalinan, pilihan yang tersedia, dan ikuti edukasi atau kelas persiapan persalinan jika tersedia.
Memasuki trimester ketiga, buat persiapan menjadi lebih konkret. Tentukan fasilitas kesehatan, siapkan transportasi dan pendamping, susun rencana persalinan, siapkan kebutuhan ibu dan bayi, serta pahami tanda-tanda persalinan dan keadaan yang membutuhkan pertolongan.
Dengan cara seperti ini, persiapan tidak terasa seperti pekerjaan besar yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.
Sedikit demi sedikit, satu hal disiapkan setelah hal lainnya.
Pada akhirnya, yang dibawa menuju ruang persalinan bukan hanya sebuah tas yang sudah penuh, tetapi juga pengetahuan, kesiapan, dan ketenangan.
Dan mungkin itulah bentuk persiapan yang paling berarti.
Karena ketika hari yang dinanti akhirnya tiba, ibu tidak harus mengetahui segala sesuatu. Ia hanya perlu tahu bahwa dirinya tidak sendirian, tahu ke mana harus pergi, tahu siapa yang dapat membantu, dan tahu bahwa setiap keputusan akan diambil dengan mempertimbangkan keselamatan dirinya dan bayinya.
Referensi:
WHO – Making plans for childbirth when pregnant