
Pekerjaan pada umumnya punya jam masuk dan jam pulang. Ada lonceng yang menandai kapan segalanya dimulai, dan ada senja yang memberi izin untuk beristirahat. Namun kepedulian tidak bekerja dengan cara itu. Ia tidak membaca jam dinding, dan tidak bertanya apakah hari ini hari libur.
Penderitaan orang lain jarang datang pada waktu yang rapi. Ia mengetuk pintu pada tengah malam, tiba lewat pesan singkat di hari Minggu, atau muncul sebagai wajah letih di depan rumah ketika kita baru saja duduk melepas penat. Pada saat-saat itulah kita diuji. Apakah kepedulian kita hanya sebatas yang tertulis dalam tugas, atau mengalir dari tempat yang lebih dalam?
Orang-orang yang sungguh mengabdi biasanya tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menolong seperti orang bernapas, tanpa dihitung dan tanpa menunggu deadline. Hari ini mengantar warga yang sakit ke puskesmas, esok mendengarkan keluhan petani tentang saluran air yang tersumbat, lusa menemani keluarga yang sedang berduka. Tak ada yang dicatat sebagai prestasi. Semuanya hanya dijalani, satu demi satu, sebagai bagian dari hidup.
Ada kelelahan di sana, tentu saja. Tubuh punya batas, dan hati pun kadang meminta jeda. Tetapi mereka yang bertahan memahami rahasianya, bahwa menolong bukanlah beban yang menumpuk, melainkan tenaga yang justru terisi kembali ketika dibagikan. Senyum seorang ibu yang anaknya akhirnya bisa berobat sering kali lebih menyegarkan daripada istirahat semalam suntuk.
Jabatan memang mengenal masa. Ada awal, ada akhir, dan ada saatnya sebuah amanah diserahkan kepada orang lain. Namun pengabdian tidak terikat pada kursi. Ia hidup dalam kebiasaan untuk hadir, mendengar, dan bergerak lebih dulu. Siapa pun yang pernah merasakan nikmatnya berguna bagi sesama akan tahu bahwa pengabdian tak mengenal purna. Ia tidak berhenti ketika masa tugas usai, sebab sejak awal ia memang tidak bergantung pada surat keputusan.
Maka mari kita terus bekerja dengan hati yang peduli, pada waktu yang diminta maupun yang tidak. Sebab selama masih ada yang membutuhkan uluran tangan, selama itu pula pengabdian punya alasan untuk tetap menyala.
