
Ada hari-hari ketika seseorang merasa lebih sensitif daripada biasanya. Perkataan sederhana terasa menyinggung, persoalan kecil mengundang air mata, sementara hal-hal yang biasanya mudah dihadapi mendadak terasa melelahkan. Beberapa hari kemudian, menstruasi datang, dan perlahan suasana hati kembali seperti semula.
Bagi sebagian perempuan, pengalaman semacam ini bukan sesuatu yang asing. Perubahan suasana hati menjelang haid kerap dianggap sebagai persoalan sepele, bahkan tidak jarang menjadi bahan gurauan. Padahal, di balik perubahan emosi tersebut, terdapat proses biologis yang melibatkan hormon, otak, dan kondisi psikologis seseorang.
Sepanjang siklus menstruasi, kadar hormon estrogen dan progesteron mengalami perubahan. Kedua hormon ini tidak hanya berperan dalam sistem reproduksi, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme otak yang mengatur suasana hati. Pada sebagian perempuan, perubahan hormonal tersebut dapat memengaruhi kestabilan emosi, meskipun mekanisme pastinya masih terus diteliti. Respons setiap orang pun berbeda. Ada yang hampir tidak merasakan perubahan, sementara yang lain mengalami kecemasan, mudah tersinggung, kesedihan, atau kehilangan energi menjelang menstruasi.
Perubahan ini sering berkaitan dengan premenstrual syndrome (PMS), yakni kumpulan gejala fisik dan emosional yang muncul menjelang haid. Gejalanya dapat berupa perut kembung, nyeri payudara, kelelahan, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan suasana hati. Biasanya, keluhan mereda setelah menstruasi dimulai atau dalam beberapa hari berikutnya.
Namun, tidak semua perubahan emosi semata-mata disebabkan oleh siklus menstruasi. Kurang tidur, tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, dan kelelahan dapat ikut memengaruhi cara seseorang merespons keadaan. Pada perempuan yang sensitif terhadap perubahan hormonal, berbagai tekanan tersebut mungkin terasa lebih berat pada fase tertentu dalam siklusnya.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychiatry pada 2024 menjelaskan bahwa perubahan hormonal sepanjang siklus menstruasi dapat memperburuk gejala pada sebagian orang yang telah memiliki gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Fenomena ini dikenal sebagai premenstrual exacerbation. Artinya, gejala yang sudah ada dapat menjadi lebih berat menjelang haid. Temuan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kondisi emosional perempuan tidak bisa dipahami hanya dengan mengatakan bahwa semuanya merupakan akibat hormon.
Ketika perubahan suasana hati berlangsung sangat intens hingga mengganggu pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau aktivitas sehari-hari, keadaan itu perlu mendapat perhatian. Salah satu kondisi yang patut dikenali adalah premenstrual dysphoric disorder (PMDD), bentuk gangguan pramenstruasi yang lebih berat daripada PMS biasa. Gejalanya dapat mencakup kesedihan mendalam, kecemasan, mudah marah, atau perubahan emosi yang signifikan. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk membedakannya dari kondisi lain.
Lantas, bagaimana mengenali apakah perubahan suasana hati memang berkaitan dengan haid? Salah satu cara yang dianjurkan adalah mencatat gejala dan tanggal menstruasi setiap hari selama sedikitnya dua siklus. Catatan sederhana mengenai suasana hati, pola tidur, tingkat stres, dan keluhan fisik dapat membantu memperlihatkan apakah perubahan tersebut muncul secara berulang pada fase yang sama. Pendekatan ini juga dapat membantu dokter melakukan penilaian yang lebih tepat.
Di luar itu, menjaga pola tidur, beraktivitas fisik secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan menyediakan waktu untuk beristirahat merupakan bagian dari upaya merawat diri. Apabila gejala terasa berat atau terus mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan dokter merupakan langkah yang bijaksana.
Memahami hubungan antara haid dan suasana hati bukan berarti menganggap perempuan tidak mampu mengendalikan emosinya. Sebaliknya, pemahaman ini membantu kita melihat bahwa pengalaman emosional memiliki banyak sisi, mulai dari perubahan biologis hingga keadaan yang sedang dihadapi seseorang.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukanlah penilaian bahwa seseorang terlalu sensitif, melainkan kesediaan untuk memahami apa yang sedang dialaminya. Bagi perempuan, mengenali pola tubuh sendiri dapat menjadi awal untuk merawat diri dengan lebih baik. Bagi orang-orang di sekitarnya, pengetahuan tersebut dapat menumbuhkan empati tanpa harus menganggap setiap perubahan emosi sebagai sesuatu yang pasti disebabkan oleh menstruasi.
Referensi:
https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000005426
https://doi.org/10.3389/fpsyt.2024.1410813
Catatan: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi dengan tenaga kesehatan.