
Menstruasi datang setiap bulan, tetapi tidak selalu dengan pola yang sama pada setiap perempuan.
Ada yang datang hampir pada tanggal yang sama. Ada yang maju beberapa hari. Ada pula yang tiba-tiba terlambat, datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, atau bahkan tidak datang selama beberapa bulan.
Sesekali mengalami perubahan siklus belum tentu berarti ada masalah. Tubuh perempuan bukan mesin yang bekerja dengan jadwal yang selalu sama. Perubahan hormon, tekanan pikiran, pola tidur, berat badan, hingga tahap kehidupan tertentu dapat memengaruhi siklus menstruasi.
Namun, jika perubahan tersebut terjadi berulang kali atau berbeda jauh dari pola yang biasanya dialami, tubuh mungkin sedang memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur?
Apa yang dimaksud dengan menstruasi tidak teratur?
Siklus menstruasi dihitung sejak hari pertama menstruasi hingga hari pertama menstruasi berikutnya.
Pada orang dewasa, siklus menstruasi umumnya berada dalam rentang sekitar 21 hingga 35 hari. Siklus yang sesekali sedikit lebih pendek atau lebih panjang masih dapat terjadi. Yang lebih perlu diperhatikan adalah ketika jarak antarmenstruasi berubah-ubah secara nyata atau pola yang sebelumnya teratur tiba-tiba menjadi tidak menentu.
Menstruasi tidak teratur juga tidak hanya berarti menstruasi terlambat.
Menstruasi yang datang terlalu sering, perdarahan yang berlangsung lebih lama dari biasanya, jumlah darah yang jauh lebih banyak atau lebih sedikit, serta perdarahan di antara dua periode juga merupakan perubahan pola yang perlu diperhatikan.
Karena itu, penting untuk mengenali pola menstruasi sendiri. Mencatat tanggal mulai menstruasi setiap bulan dapat membantu melihat apakah perubahan tersebut hanya terjadi sesekali atau sudah menjadi pola.
1. Kehamilan
Ketika menstruasi terlambat, kehamilan merupakan salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi perempuan yang aktif secara seksual.
Tidak datangnya menstruasi merupakan salah satu tanda awal kehamilan yang paling dikenal. Namun, siklus yang tidak teratur juga dapat membuat seseorang kesulitan menentukan apakah keterlambatan tersebut benar-benar berkaitan dengan kehamilan.
Jika terdapat kemungkinan hamil, tes kehamilan dapat menjadi langkah awal yang sederhana sebelum mencari penyebab lainnya.
2. Stres dan tekanan emosional
Pikiran ternyata dapat berpengaruh pada siklus menstruasi.
Ketika seseorang mengalami stres berat atau berkepanjangan, perubahan pada sistem hormonal yang mengatur ovulasi dapat terjadi. Akibatnya, menstruasi bisa datang lebih lambat, lebih cepat, atau bahkan berhenti untuk sementara.
Masalah pekerjaan, tekanan keluarga, kurang tidur, kecemasan, maupun perubahan besar dalam kehidupan dapat menjadi bagian dari pemicunya.
Karena itu, ketika menstruasi mulai berubah pada masa yang penuh tekanan, jangan hanya melihat kalender menstruasi. Perhatikan juga apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Perubahan berat badan yang cukup drastis
Berat badan yang berubah secara signifikan dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan proses ovulasi.
Penurunan berat badan yang terlalu cepat, asupan kalori yang tidak mencukupi, maupun berat badan yang terlalu rendah dapat menyebabkan menstruasi menjadi jarang atau berhenti. Sebaliknya, kenaikan berat badan juga dapat berkaitan dengan perubahan siklus pada sebagian perempuan.
Tubuh membutuhkan keseimbangan energi dan nutrisi agar sistem reproduksi dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Karena itu, perubahan berat badan yang terjadi bersamaan dengan perubahan menstruasi sebaiknya tidak diabaikan.
4. Aktivitas fisik yang terlalu berat
Olahraga pada dasarnya baik untuk kesehatan. Namun, aktivitas fisik yang sangat berat, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan energi yang cukup, dapat memengaruhi siklus menstruasi.
Hal ini dapat terjadi pada atlet atau perempuan yang menjalani latihan intensif dalam waktu lama.
Tubuh memiliki cara sendiri untuk memberi tahu ketika kebutuhan energi tidak seimbang. Salah satunya dapat terlihat melalui perubahan menstruasi.
Jika menstruasi mulai jarang atau berhenti setelah peningkatan aktivitas fisik yang cukup drastis, sebaiknya kondisi tersebut dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
5. Sindrom ovarium polikistik atau PCOS
Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur.
Pada PCOS, gangguan keseimbangan hormon dapat memengaruhi proses ovulasi. Akibatnya, menstruasi dapat datang lebih jarang atau tidak menentu.
Beberapa perempuan dengan PCOS juga dapat mengalami gejala lain, seperti pertumbuhan rambut berlebih pada wajah atau tubuh, jerawat, serta perubahan berat badan. Namun, gejala PCOS tidak selalu sama pada setiap orang.
Karena itu, menstruasi tidak teratur saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami PCOS. Diagnosis membutuhkan penilaian tenaga kesehatan dan, bila diperlukan, pemeriksaan lebih lanjut.
6. Gangguan pada kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid berada di bagian depan leher, tetapi pengaruhnya terhadap tubuh sangat luas, termasuk terhadap sistem reproduksi.
Tiroid yang terlalu aktif maupun kurang aktif dapat menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi.
Karena itu, apabila menstruasi tidak teratur disertai keluhan lain seperti mudah lelah, perubahan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, jantung berdebar, merasa terlalu dingin atau terlalu panas, atau perubahan kondisi tubuh lainnya, dokter mungkin akan mempertimbangkan pemeriksaan fungsi tiroid.
7. Penggunaan kontrasepsi hormonal
Pil KB, suntik KB, implan, dan beberapa jenis alat kontrasepsi hormonal dapat mengubah pola menstruasi.
Sebagian perempuan mengalami menstruasi yang lebih sedikit, lebih jarang, atau bahkan tidak mengalami menstruasi selama menggunakan metode tertentu.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti ada masalah. Pola menstruasi dapat memang berubah sebagai bagian dari efek kontrasepsi.
Namun, jika perubahan terasa mengganggu atau muncul keluhan lain, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk mengetahui apakah metode kontrasepsi yang digunakan masih sesuai.
8. Masa pubertas
Menstruasi yang baru dimulai pada masa remaja memang sering kali belum memiliki pola yang teratur.
Tubuh sedang belajar membangun pola hormonal yang mengatur ovulasi dan menstruasi. Karena itu, pada tahun-tahun awal setelah menstruasi pertama, siklus dapat lebih panjang atau berubah-ubah.
Meski demikian, menstruasi yang sangat jarang, berhenti dalam waktu lama, atau disertai keluhan tertentu tetap perlu mendapat perhatian.
Menjadi tidak teratur pada masa pubertas tidak selalu berarti penyakit, tetapi kondisi setiap remaja tetap perlu dilihat secara individual.
9. Menjelang menopause
Memasuki masa perimenopause, yaitu masa peralihan sebelum menopause, pola menstruasi dapat mulai berubah.
Menstruasi mungkin datang lebih cepat atau lebih lambat. Jumlah darah juga dapat berubah. Pada sebagian perempuan, menstruasi dapat terlewat selama beberapa bulan sebelum kemudian datang kembali.
Perubahan ini berkaitan dengan perubahan hormon ovarium yang terjadi secara bertahap.
Perimenopause biasanya terjadi pada usia 40-an, meskipun waktunya dapat berbeda pada setiap perempuan. Karena perubahan menstruasi juga dapat disebabkan oleh banyak kondisi lain, perubahan yang baru muncul tetap sebaiknya diperiksakan jika terasa tidak biasa.
10. Kondisi kesehatan tertentu
Selain beberapa penyebab yang sudah disebutkan, menstruasi tidak teratur juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu yang memengaruhi hormon atau organ reproduksi.
Beberapa di antaranya adalah gangguan pada kelenjar yang mengatur hormon reproduksi, masalah pada ovarium, kelainan pada rahim, maupun kondisi medis tertentu lainnya.
Itulah sebabnya tidak tepat jika setiap menstruasi tidak teratur langsung dianggap sebagai akibat stres atau PCOS.
Penyebabnya perlu dilihat berdasarkan usia, riwayat menstruasi, gejala yang menyertai, obat atau kontrasepsi yang digunakan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Kapan menstruasi tidak teratur perlu diperiksakan?
Tidak semua perubahan siklus membutuhkan pemeriksaan segera. Namun, ada beberapa keadaan yang sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja.
Periksakan diri apabila menstruasi yang sebelumnya teratur tiba-tiba menjadi tidak teratur dan perubahan tersebut terus berulang. Pemeriksaan juga dianjurkan jika menstruasi berlangsung lebih dari tujuh hari, terjadi perdarahan di antara menstruasi, atau siklus menjadi sangat sering maupun sangat jarang.
Perhatian lebih juga diperlukan jika menstruasi tidak teratur disertai gejala lain, seperti kenaikan berat badan, pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, jerawat yang semakin berat, kelelahan yang tidak biasa, atau kesulitan untuk hamil.
Jika menstruasi berhenti selama beberapa bulan, jangan langsung menganggapnya sebagai gangguan hormonal. Kehamilan tetap perlu dipertimbangkan terlebih dahulu jika ada kemungkinan hamil.
Apakah menstruasi tidak teratur dapat menyebabkan sulit hamil?
Tidak selalu.
Namun, pada sebagian perempuan, menstruasi yang tidak teratur dapat menunjukkan bahwa ovulasi tidak terjadi secara teratur. Jika pelepasan sel telur tidak berlangsung secara konsisten, kesempatan untuk hamil juga dapat menjadi lebih sulit diperkirakan.
Inilah salah satu alasan mengapa perempuan yang sedang merencanakan kehamilan dan memiliki siklus menstruasi tidak teratur sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Dokter dapat membantu mencari penyebabnya dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Catat menstruasi Anda, kenali polanya
Salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai mencatat siklus menstruasi.
Tuliskan kapan menstruasi dimulai, berapa lama berlangsung, seberapa banyak perdarahan, apakah terjadi perdarahan di luar jadwal, serta keluhan lain yang muncul.
Catatan tersebut akan sangat membantu ketika berkonsultasi dengan dokter. Daripada hanya mengatakan bahwa menstruasi terasa “tidak teratur”, informasi mengenai pola selama beberapa bulan dapat memberikan gambaran yang jauh lebih jelas.
Pada akhirnya, menstruasi bukan sekadar rutinitas bulanan.
Ia merupakan salah satu bagian dari sistem reproduksi yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi tubuh. Perubahan kecil memang tidak selalu berarti penyakit, tetapi perubahan yang menetap atau disertai keluhan lain layak untuk diperhatikan.
Tidak perlu panik ketika siklus menstruasi berubah. Namun, jangan pula terbiasa mengabaikannya.
Mengenali pola tubuh sendiri adalah langkah sederhana untuk menjaga kesehatan reproduksi, dan ketika ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan adalah pilihan yang bijaksana.
Referensi: