
Hujan belum juga reda ketika air mulai merayap naik ke halaman rumah-rumah di tepi sungai. Pukul dua dini hari, saat kebanyakan orang masih terlelap, sebuah sepeda motor tua menembus gelap dengan dua karung beras di boncengan dan sebatang senter yang cahayanya mulai redup.
Pengendaranya bukan petugas, bukan pula orang yang namanya sering disebut dalam rapat. Ia seorang tukang ojek yang paginya biasa mengantar anak sekolah. Malam itu ia mengetuk pintu demi pintu, menggendong seorang nenek yang enggan meninggalkan rumahnya, lalu menyeberangkan anak-anak ke balai desa yang lebih tinggi. Tak ada yang menyuruhnya. Ia hanya tahu bahwa air tidak menunggu surat tugas.
Menjelang subuh, balai desa sudah ramai. Seorang ibu menanak nasi dalam panci besar pinjaman tetangga. Dua pemuda memikul tikar. Seorang guru mengaji membisikkan doa untuk anak-anak yang menggigil. Tak seorang pun membawa kamera, dan tak seorang pun menyangka malam itu akan dikenang sebagai apa pun. Mereka hanya bekerja, bergantian, seperti orang-orang yang percaya bahwa kebaikan tidak perlu diumumkan.
Ketika air surut dan kamera akhirnya datang, yang tertangkap hanyalah lumpur, bantuan yang berderet, dan wajah-wajah resmi yang berfoto di depannya. Kisah tentang sepeda motor tua itu tidak sempat singgah di layar mana pun. Barangkali memang begitulah watak sunyi. Ia menolong tanpa meminta diingat.
Namun dari orang-orang seperti inilah sebuah daerah menemukan kekuatannya. Bukan dari pidato yang panjang, melainkan dari tangan yang terulur lebih dulu, sebelum ada yang sempat bertanya siapa yang akan melakukannya. Mereka tidak mengejar viral dan tidak menunggu tepuk tangan. Mereka hadir karena yang sedang kesulitan di depan mata adalah sesama.
Catatan ini kami tulis untuk mereka, agar kebaikan yang tak masuk berita tetap punya tempat untuk dikenang. Dan agar siapa pun yang membacanya mau percaya bahwa menolong tidak butuh alasan lain selain karena kita mampu.
